Home
kampus
Perpustakaan Masa Depan

Perpustakaan Masa Depan


Selasa, 2015-04-21 - 00:49:32 WIB

Perpustakaan ideal masa depan menurut saya adalah perpustakaan hibrida (hybrid library), yakni perpaduan antara model konvensional dan model digital. Tuntutan akan keberadaan Perpustakan digital dipicu oleh kemajuan yang sangat pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, internet, serat optik, dan telepon genggam.

Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih menyebabkan Perpustakaan digital selain secara ekonomi lebuh murah juga memiliki beberapa keunggulan lain. Pertama, mudah diakses oleh siapa pun dan dari mana pun asal memiliki koneksi Internet, baik menggunakan PC, lap top, maupun telepon genggam. Para pemustaka tidak perlu datang secara fisik ke pepustakaan. Cukup dengan menyalakan komputer atau telepon genggam terkoneksi Internet, para pemustaka dapat melihat katalog, melakukan transaksi pemesanan dan peminjaman buku elektronik, serta mengakses dan mengunduh jurnal elektronik.
Kedua, lebih murah dari perpustakaan konvensional. Hal yang selalu menjadi kendala pada Perpustakaan  konvensional adalah ruang penyimpanan buku. Dengan memindai bahan pustaka ke dalam bentuk soft files dan menyimpannya ke dalam basis data, akan semakin banyak koleksi yang dapat disimpan serta dapat menghemat pengeluaran untuk penyediaan dan pengelolaan ruang perpustakaan.

Ketiga, selain berasal dari ruangan, pada perpustakaan digital, penghematan juga dapat dilakukan karena biaya pengiriman buku atau jurnal dari penerbit layaknya pada Perpustakaan konvensional tidak diperlukan. Dari sisi pemustaka, Perpustakaan digital juga amat efisien karena mencari dan mendapatkan buku tidak perlu mencarinya di rak buku, tetapi cukup dengan perangkat pencari yang disediakan atau menggunakan Google atau Yahoo.

Keempat, selain mempermudah akses ke bahan pustaka, Perpustakaan digital juga dapat menjangkau khalayak yang luas di seluruh dunia. Dengan demikian, karya ilmiah yang disajikan dalam data dapat dinikmati oleh ribuan bahkan jutaan orang di sekuruh dunia. Keterbukaan itu memberi peluang dilakukannya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat dan terukur dan optimal, oleh siapa pun di dunia.

Kemudahan yang kini dapat dinikmati sedikit banyak dipicu oleh pemeringkatan pemanfaatan Internet untuk kepentingan pendidikan yang dikenal dengan nama Webometric yang dikeluarkan oleh sebuah laboratorium komputer berpusat di Spanyol. Karena ranking yang dihasilkan mendunia dan dibaca oleh banyak orang, setiap universitas berusaha memperbaiki rankingnya agar unggul dari universitas lain.

Persaingan itu memicu setiap universitas memperkaya aspek-aspek yang dijadikan dasar penilaian, yaitu Rich Files (R), visibility (V), Scholar (Sc), dan size. Dampak yang paling sederhana adalah makin banyaknya perguruan tinggi yang mengunggah file berjenis PDF, .PPT atau .DOC ke dalam laman webnya. Dari sinilah akses terbuka yang memberi kemudahan bagi perpustakaan maya dimulai. (Dr. Didi Sukyadi, MA)


Share Berita


Komentari Berita