Emansipasi Perempuan Indonesia

Wednesday, 11 April 2012 03:06 administrator
Print PDF

Bulan April dapat dikatakan merupakan bulanya perempuan Indonesia, dan biasanya pikiran kita langsung tertuju pada seorang pahlawan nasional yang berasal dari Jepara, yaitu Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Tak disangkal lagi beliau dinobatkan sebagai tokoh penggerak emansipasi kaum perempuan di Indonesia. Berbicara mengenai perkembangan sejarah emansipasi perempuan, sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali tokoh perintis emansipasi perempuan, baik itu yang bergerak dalam isu sosial, kesetaraan pendidikan dan juga profesional, namun keberadaanya kadang kurang kita ketahui.

Para penggiat emansipasi perempuan Indonesia sebenarnya telah terlibat dalam isu-isu perempuan sejak awal abad keduapuluh. Sebut saja, Dewi Sartika (1884-1947), seorang bangsawan Sunda di Jawa Barat yang mendirikan sekolah pada tahun 1904, yang idenya dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari Raden Ajeng Kartini. Di Sumatra Barat, terdapat nama Rahmah El-Yunusiah yang berjuang untuk mendapatkan keseteraan terhadap akses pendidikan bagi kaum perempuan, serta Rasuna Said yang memperjuangan kaum perempuan untuk dapat bergerak dalam bidang politik dan jurnalisme. Lahir dengan latar belakang Islam yang kuat, pada tanggal 20 Desember 1900, El-Yunusiah merintis sebuah sekolah Islam yang didedikasikan khusus untuk perempuan. El-Yunusiah percaya bahwa perempuan dalam banyak hal tertinggal kaum pria dan hal ini lah yang menjadi motor penggerak untuk membangun Madrasah Diniyah Puteri (Pesantren khusus Perempuan). Sekolah inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi aktivis perempuan di negara lain untuk berbuat yang sama. El-Yunusiah berhasil mengkolaborasikan syariah Islam dengan gerakan emansipasi perempuan di Indonesia, dan karena hal inilah kemudian dia menadapat gelar "Kartini Sekolah Islam" (Burhanudin, 2001).

Perempuan lain yang menonjol adalah Roehanna Koeddoes, yang menerbitkan Soenting Melajoe, terbitan ini didedikasikan untuk kemajuan kaum perempuan. Melalui terbitan ini, Koeddoes menyebarluaskan tidak hanya ide-ide emansipasi perempuan dan keterampilan perempuan, tetapi juga mengenai konsep kesetaraan gender. Meskipun majalah Soenting Melajoe hanya terbit untuk untuk waktu singkat yaitu dari 1912-1921, namun hal tersebut berhasil meningkatkan kesadaran perempuan Indonesia untuk lebih peka mengenai beberapa isu, seperti peran mereka dalam pendidikan, politik, dan kehidupan sosial.

Emansipasi dan Modernisasi

Perjuangan El-Yunusiah dan pejuang emansipasi lainnya untuk memperbaiki kondisi perempuan tidak dapat dipisahkan dari gelombang gerakan modernisasi Islam di Sumatera Barat khususnya dan di Indonesia pada umumnya pada awal abad kedua puluh. Muhammadiyah, lokomotif gerakan modernisasi Islam di Indonesia, meletakkan penekanan kuat pada pendidikan, termasuk pendidikan perempuan.
Muhammadiyah memilih kegiatan pendidikan dan sosial sebagai agenda yang paling penting. Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah percaya bahwa perempuan harus dimasukkan dalam proses modernisasi. Ini berarti bahwa pendidikan perempuan menjadi prioritas tertinggi dalam kegiatannya. Nyai Ahmad Dahlan, istri Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mendirikan Sopo Tresno pada tahun 1914, sebuah lingkar studi yang didedikasikan untuk perempuan yang menjadi sarana penyebaran semangat progresif di kalangan perempuan, terutama mereka yang terlibat dalam organisasi Muhammadiyah. Pada tahun 1917, lingkar studi ini kemudian diubah menjadi organisasi yang lebih besar disebut Aisyiyah, dan menjadi sub-organisasi perempuan di Muhammadiyah.

Seperti halnya Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis, Persis (Persatuan Islam), mendirikan Persistri sebagai sub organisasi yang bersangkutan dengan perempuan. Kegiatan ini berorientasi pada pemberian pengarahan dan bimbingan agama kepada para anggotanya. Nahdlatul Ulama (NU) membentuk sub organisasi yang peduli dengan perempuan, bernama Muslimat. Aisyiyah, Muslimat, dan Persistri kesemuanya memberikan keterampilan dan pengetahuan bagi perempuan, serta menumbuhkan semangat untuk mendirikan cabang dari organisasi mereka di seluruh negeri untuk mendukung kegiatan mereka.

Para aktivis perempuan Indonesia pada awal abad kedua puluh dapat dilihat bahwa gerakan utama mereka adalah dalam hal pendidikan perempuan. Hal ini terlihat dalam perjuangan El-Yunusiah dan Nyai Ahmad Dahlan yang mendedikasikan perjuangan mereka untuk pendidikan Islam bagi kaum perempuan. Pemahaman ini tampaknya logis, mengingat bahwa pada waktu itu sekolah tetap tertutup bagi perempuan. Hanya sejumlah kecil perempuan dari kelompok bangsawan, seperti Kartini, yang bisa menikmati pendidikan.

Beberapa aktivis perempuan memiliki pemahaman atau penekanan isu yang sedikit berbeda tentang emansipasi perempuan, sebut saja Rasuna Said yang lebih menekankan pentingnya kesadaran politik perempuan sebagai bagian dari emansipasi perempuan. Dapat dikatakan bahwa Rasuna Said adalah aktivis perempuan pertama yang percaya bahwa perempuan tidak dapat dipisahkan dari politik. Rasimah Ismail, penerus dari perjuangan Rasuna Said, menekankan keyakinannya bahwa perempuan harus memberikan kontribusi nyata untuk gerakan kemerdekaan Indonesia. Kesadaran politik perempuan menjadi lebih jelas ketika pada tahun 1928 pada kongres nasional pertama perempuan yang diadakan di Jakarta. Pada kongres perempuan ini membahas masalah peningkatan pendidikan perempuan, dan juga mendukung gerakan kemerdekaan. Setahun kemudian, pada kongres kedua juga di Jakarta, mereka disajikan kembali pada agenda politik termasuk dukungan kaum perempuan bagi kemerdekaan dan penolakan mereka terhadap provinsialisme (kedaerahan).

Pada 1980-an, terjadi pergeseran paradigma di kalangan aktivis perempuan tentang wacana perempuan. Emansipasi sedikit banyaknya telah dicapai oleh kaum perempuan Indonesia, kemudian isu gender muncul ke permukaan. Sejumlah intelektual perempuan memperkenalkan wacana gender dalam perempuan Indonesia, bersama dengan isu-isu demokrasi, HAM, dan lingkungan [AJ].