
Bandung, 23 September 2026. Membicarakan karya Seno Gumira Ajidarma pada akhirnya tidak hanya membawa pembaca memasuki cerita, tetapi juga menelusuri cara seorang penulis membaca dan mengalami dunia. Percakapan itulah yang mengemuka dalam bedah buku Tempat Terindah untuk Mati dan Senja dan Cinta yang Berdarah yang berlangsung di Auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia, Rabu (23/9), dalam format hibrida. Seno Gumira Ajidarma hadir sebagai narasumber dengan Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. sebagai moderator.
Suasana sastra terasa bahkan sebelum percakapan utama dimulai. Seorang mahasiswa FPBS membacakan potongan surat cinta dari buku Sepotong Senja untuk Pacarku dengan apik. Tanpa perlu banyak pengantar, pembacaan itu menghadirkan suasana romantis sekaligus menjadi pintu masuk menuju semesta kepengarangan Seno, dari cinta dan senja hingga persoalan kehidupan yang lebih luas.
Dari titik itu, Prof. Yulianeta membawa percakapan melampaui dua buku yang sedang dibedah. Riwayat kreatif Seno ditelusuri melalui berbagai medium yang pernah disentuhnya: sastra, jurnalistik, fotografi, drama, skenario, hingga dunia akademik. Keragaman pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah-pisah, tetapi berkelindan dengan pengalaman melihat, membaca, bekerja, dan menjalani kehidupan.
Jejak tersebut juga terlihat dalam riwayat kepengarangan Seno. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa ia telah bekerja sebagai wartawan sejak akhir 1970-an sembari terus menulis cerita pendek dan esai. Dalam paparanya, Seno mengingat bahwa dorongan menulisnya tumbuh secara alamiah dari aktivitas membaca dan mendengarkan cerita sejak kecil, mulai dari bacaan yang dibacakan ibunya hingga kisah yang disampaikan guru-gurunya.
Latar itulah yang membuat pembicaraan mengenai membaca menjadi salah satu bagian penting dalam forum di Auditorium FPBS UPI. Seno menekankan bahwa seorang penulis perlu membaca banyak hal dan tidak membatasi dirinya pada satu subjek. Beberapa buku pun dapat dibaca secara beriringan. Membaca, dalam percakapan tersebut, muncul bukan sekadar sebagai kegiatan sebelum menulis, melainkan sebagai salah satu cara memperluas kemungkinan gagasan.

Pertanyaan peserta kemudian membawa forum pada tegangan menarik antara kreativitas dan dunia akademik. Salah satunya menyentuh persoalan bagaimana seorang penulis yang juga akademisi dapat menjaga “keliaran metafora” dalam karya fiksi tanpa sepenuhnya terikat pada pola berpikir akademik yang terstruktur dan terukur. Diskusi itu membuka percakapan mengenai dua wilayah yang tampak berbeda tetapi dapat hidup berdampingan: kebebasan imajinasi dan disiplin intelektual. Catatan kegiatan tidak merekam jawaban Seno secara verbatim, sehingga pembahasan tersebut lebih tepat dibaca sebagai arah percakapan daripada dikonstruksikan menjadi kutipan langsung.
Persoalan yang lebih praktis juga muncul: bagaimana menjadi produktif?, bagaimana memulai tulisan?, dan yang sering kali lebih sulit, bagaimana menyelesaikannya?. Seno menekankan pentingnya memulai dari gagasan yang sudah ada di pikiran, meneruskannya, lalu membawa tulisan sampai pada titik penutup. Prinsip tersebut sederhana, tetapi menunjukkan bahwa proses kreatif tidak hanya bergantung pada datangnya inspirasi; ada ketekunan untuk terus bergerak dari gagasan menuju tulisan yang selesai.
Ketika pembicaraan bergeser pada creative block, Seno menawarkan perspektif yang tidak memaksakan proses. Kebuntuan dapat menjadi alasan untuk berhenti sejenak, bertemu orang, melakukan perjalanan, atau memberi kesempatan kepada diri untuk mengalami sesuatu yang baru. Pengalaman lain dapat membuka jalan bagi datangnya gagasan baru. Pandangan tersebut tidak muncul sebagai formula baku, melainkan sebagai bagian dari pengalaman panjang seorang penulis menghadapi naik-turun proses kreatif.
Rentang pengalaman itu memang panjang. Mizan mencatat Tempat Terindah untuk Mati menghimpun 100 cerita yang ditulis dan dipublikasikan antara 1976 hingga 2025, rentang 49 tahun kepengarangan. Dalam forum bedah buku ini, Seno menyampaikan bahwa sepanjang hampir lima dekade proses kreatif tersebut, ia tidak pernah terpikir untuk berhenti menulis. Konsistensi itu memberi dimensi lain pada pembicaraan tentang produktivitas, bahwa menjadi penulis tidak berhenti pada soal seberapa cepat sebuah karya lahir, melainkan seberapa lama seseorang bersedia terus membaca, mengamati, mengalami, dan kembali menulis.
Perjalanan tersebut juga telah mendapat pengakuan luas. Seno tercatat sebagai penerima S.E.A. Write Award 1997 dan Khatulistiwa Literary Award melalui Kitab Omong Kosong pada periode 2004–2005. Terjemahan bahasa Inggris Saksi Mata juga tercatat meraih Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation.
Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Pertanyaan hadir dari mahasiswa, dosen, maupun peserta yang mengikuti secara daring, bergerak dari karya sastra menuju praktik menulis, profesi, pengalaman hidup, dan proses seorang pengarang mempertahankan keberlanjutan kreativitasnya.
Kegiatan yang diselenggarakan FPBS UPI bersama Perpustakaan UPI, Penerbit Mizan, dan Penerbit Buku Kompas tersebut pada akhirnya mempertemukan buku dengan sesuatu yang lebih luas; pembaca dengan pengalaman seorang pengarang. Kolaborasi itu menghadirkan sastra bukan hanya sebagai teks untuk dibicarakan, tetapi sebagai pintu bagi percakapan akademik mengenai kreativitas, kehidupan, kemanusiaan, dan kebebasan imajinasi.
“Tulisan boleh berakhir pada sebuah titik, tetapi proses menjadi penulis terus bergerak selama seseorang masih bersedia membaca dan mengalami dunia.”





