Bandung, 20 November 2025 — Kepala Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Riche Cynthia Johan, M.Si., bersama dua pustakawan, Dian Arya Susanti, M.T., dan Hesha Glenn Pratama, S.S.I., menghadiri acara Gelar Wicara Buku “Trilogi Kartini” karya Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) UPI pada Kamis, 20 November 2025.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FPBS UPI, Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., dan dipandu oleh moderator Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penjaminan Mutu FPBS UPI. Kegiatan ini dihadiri civitas akademika UPI serta berbagai pemerhati pendidikan dan literasi.

Dalam pemaparannya, Wardiman Djojonegoro menjelaskan: “Zaman Kartini adalah zaman gelap, ketika patriarki masih kuat mengakar dalam adat istiadat. Kartini menghayati semangat emansipasi melalui perjuangan pendidikan bagi perempuan.” Melalui Trilogi Kartini, ia menyajikan elaborasi pemikiran Kartini dari konteks masa lalu hingga relevansinya di era modern, terutama dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di tengah tantangan budaya patriarkal yang masih kuat di Indonesia.
Wardiman juga menegaskan bahwa pemikiran Kartini tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, agar berani memperjuangkan kebaikan dan kesetaraan dalam kehidupan berbangsa dan berpendidikan. Ia menambahkan: “Kartini hidup 140 tahun yang lalu. Bila pemikirannya dijiplak mentah-mentah tentu tidak relevan, tetapi semangatnya untuk menolong perempuan Indonesia tetap bisa dijadikan inspirasi.”
Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan dan penandatanganan buku “Trilogi Kartini” oleh Wardiman Djojonegoro kepada Kepala Perpustakaan UPI, Dr. Riche Cynthia Johan, M.Si. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap pengembangan koleksi literasi perempuan dan kebudayaan di Perpustakaan UPI.
Gelar wicara ini memberikan wawasan mendalam mengenai perjalanan pemikiran Kartini serta sejarah perayaan Hari Kartini di Indonesia. Wardiman menyebut bahwa perayaan Hari Kartini pertama kali diadakan oleh sekolah yang didirikan langsung oleh Kartini, dan mulai diresmikan oleh pemerintah pada tahun 1947 oleh Sekretariat Negara saat pusat pemerintahan berada di Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, Perpustakaan UPI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung literasi, kebudayaan, dan pelestarian nilai-nilai emansipasi perempuan dalam dunia pendidikan dan masyarakat Indonesia.








